Gaul. Itu adalah
sebutan paling populer bagi siswa SMP yang sedang dalam masa puber. Kalau saya
tegur mengenai penampilan rambut mereka karena mengikuti gaya rambut pemain
bola terkenal yang menurut saya “enggak banget”, mereka pasti akan menjawab, “Ih,
Ibu ini gak gaul lho. Heeee...” Saya hanya tersenyum melihat tingkah polah
mereka yang dipaksakan itu. Belum lagi bando aneh mirip telinga kelinci. Siswa
pria juga sering memakai gelang plastik warna-warni yang jauh dari keren. Itulah
masa-masa remaja yang tidak bisa diulang. Sebagai guru, saya harus memposisikan
diri sebagai guru dan juga teman mereka. Dengan begitu, mereka akan terbuka
terhadap saya.
Siswa SMP adalah
sekumpulan remaja yang senang dengan perubahan, menganggap segala kepopuleran
adalah hal penting, dan ingin diterima masyarakat sebagai sosok dewasa. Namun,
mereka belum benar-benar mengerti bagaimana menjadi dewasa. Untuk itulah peran
pendidikan menjadi hal yang sangat krusial bagi perkembangan remaja. Apabila mereka
tidak diarahkan dengan tepat, maka masa depan mereka yang akan terancam.
Berbagai
kasus remaja yang sangat memprihatinkan seperti menyimpan video porno di
ponsel, menontonnya di internet, bergaya kebarat-baratan akibat televisi,
terjadinya bullying saat berselancar di jejaring sosial. Apabila kita sebagai
orang tua dan guru tidak melek teknologi, maka masa depan anak kita yang akan
menjadi taruhannya.
Sementara itu,
perkembangan teknologi informasi semakin hari semakin canggih. Dari mulai
penemuan telepon, hingga ponsel, gaget, smartphone, tablet, komputer, dan tidak
kalah penting yaitu internet. Internet menjadi tempat khusus baik orang tua
maupun remaja. Melalui internet, kita dapat mengetahui berbagai hal di dunia
baik pengetahuan lama maupun terbaru.
Saat ini,
internet bukanlah hal yang asing bagi masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Penggunanya
beragam, termasuk remaja. Bahkan riset dari Amanda Lenhart, peneliti di Pew
Internet dan American Life Project, yang mengungkapkan bahwa pengguna online
tetap lebih banyak anak muda dibandingkan yang lebih tua dengan persentase 75%
anak muda dan hanya 7% bagi yang sudah berumur di atas 65 tahun (http://www.inilah.com/berita/teknologi/2009/01/19/77014/tidak-hanya-abg-kecanduan-facebook/).
Sesuai dengan
perkembangan usianya, remaja sedang berada dalam tahapan krisis identitas,
cenderung mempunyai rasa keingintahuan yang tinggi, selalu ingin mencoba
hal-hal baru, mudah terpengaruh dengan teman-teman sebayanya (peer groups), dan juga mulai suka
memperluas hubungan antar pribadi dan berkomunikasi secara lebih dewasa dengan
teman sebaya, baik laki-laki maupun perempuan. (Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Remaja (Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 2004), h. 24)
Keadaan
remaja tersebut dapat dikaitkan dengan perkembangan internet, khususnya jejaring
sosial yang semakin populer seperti facebook. Saat ini, remaja tidak hanya
memiliki teman di dunia nyata namun juga dunia maya. Mereka pun tidak ingin
ketinggalan informasi di dunia maya. Ketika berkenalan dengan orang baru pun
bukan hanya nomor hp atau alamat rumah yang ditanyakan, tetapi juga alamat
jejaring sosial seperti facebook. Facebook jelas menjadi jejaring sosial yang
sangat digandrungi oleh remaja.
Facebook
adalah situs web jejaring sosial yang diluncurkan pada 4 Februari 2004 dan
didirikan oleh Mark Elliot Zuckerberg, seorang lulusan Harvard dan mantan murid
Ardsley High School. (http://id.wikipedia.org/wiki/Mark_Zuckerberg). Dan dari
banyaknya jejaring sosial yang ada, facebook adalah yang terpopuler hingga saat
ini.
Dalam
prosesnya, terjadi transformasi kegiatan belajar remaja ke dalam bentuk yang
lebih elegan, yakni internet. Saya sebagai guru merasa harus melek internet
khususnya facebook. Menyelami remaja bukan hanya saat di sekolah. Namun juga
dapat dilakukan melalui dunia maya. Untuk itu, memilih media facebook sebagai
tempat berkomunikasi dengan siswa dirasa sangat tepat.
Jejaring
sosial facebook dipilih karena fiturnya yang lengkap seperti perpaduan email,
friendster, games, kuis dan chatting room. Banyak manfaat yang didapatkan dari
penggunaan jejaring sosial facebook, diantaranya yakni sebagai media
komunikasi, bersosialisasi dengan teman lama dan baru, meningkatkan kreativitas
menulis atau bersenang-senang melalui games termasuk ajang untuk berbisnis.
Melalui facebook,
saya juga bisa memantau perkembangan siswa saya. Selain itu, saya dapat
membagikan pengetahuan melalui notes atau pun membuat status yang mendidik dan
membangun. Siswa pun dapat menggunakan message atau chat apabila ingin curhat. Tugas
mata pelajaran BK pun bisa saya berikan melalui facebook.
Inilah pentingnya
dunia pendidikan khususnya guru agar melek IT. Hal ini bertujuan agar
penggunaan internet oleh siswa lebih banyak dampak positifnya daripada dampak
negatifnya. Semoga semua guru di pelosok
tanah air dapat mempelajari teknologi informasi yang kian hari kian canggih. Jayalah
pendidikan Indonesia. :-)

