
Bunuh diri sepertinya sudah menjadi hal yang biasa saat ini. Kasus siswa yang tidak lulus ujian nasional, warga yang terhimpit kemiskinan, terlilit banyak utang, tidak menang dalam pilihan caleg, termasuk karena gagal percintaan.
Berbagai kasus bunuh diri ini dapat ditemukan dengan motif bermacam-macam. Bahkan bunuh diri juga banyak terjadi pada orang yang terkena penyakit kronis. Yang dimaksud dengan bunuh diri (dalam bahasa Inggris: suicide; dalam budaya Jepang dikenal istilah harakiri) adalah perbuatan menghentikan hidup sendiri yang dilakukan oleh individu itu sendiri atau atas permintaannya (wikipedia).
Kasus bunuh diri ini juga tidak hanya terjadi di negara Indonesia. Seperti bunuh diri ala Jepang yang biasanya disebut harakiri. Para pejabat yang merasa tidak dapat menjalankan amanah memilih lebih baik bunuh diri, belum lagi siswa yang merasa tidak dapat mengikuti pelajaran juga memilih bunuh diri. Harga diri menjadi orang yang bermanfaat sangat dipentingkan oleh orang Jepang. Bahkan angkanya sangat dahsyat yakni dalam kurun waktu 11 tahun terakhir, lebih dari 30.000 warga Jepang bunuh diri setiap tahun (detikNews, 28/05/2009). Sementara Di Swedia pelaku bunuh diri biasanya dilatarbelakangi oleh penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Usia pelaku bunuh diri di negara tersebut rata-rata berkisar antara 16–34 tahun.
Menurut Norman Wright, seorang psikolog, 10 persen orang yang bunuh diri melakukannya dengan alasan yang tidak jelas. Sebanyak 25 persen digolongkan sebagai orang-orang yang menderita ketidakstabilan mental. Sebanyak 40 persennya lagi melakukan bunuh diri menurut kata hati ketika mengalami gangguan emosi. Ketika stres begitu hebat menguasai mereka, saat itulah mereka memutuskan untuk bunuh diri.
Hal ini sangat berkaitan dengan kondisi psikis manusia. Stres yang begitu hebat akan membuat orang terlalu sedih, sampai mengakibatkan depresi. Dalam teori psikologi, depresi merupakan salah satu penyebab utama kejadian bunuh diri (wikipedia). Hal ini pun dapat terjadi pada para fan atau penggemar sepakbola. Khususnya ketika permainan sepakbola masih menggunakan sistem sudden-death. Istilah ini dipakai pada pertandingan sepakbola yang mengalami perpanjangan waktu akibat belum ada tim yang jadi juara. Dengan tambahan waktu tersebut, tim mana pun yang berhasil menyarangkan bola ke gawang lawan dalam proses perpanjangan waktu itu, maka dialah yang berhak jadi juara. Inilah yang membuat fan berdebar-debar menunggu masuknya gol. Kemungkinan tim kuat kebobolan gawang sangat besar. Ketika hal ini terjadi, banyak fan yang juga terkena serangan jantung tiba-tiba dan meninggal. Sehingga, sistem ini pun ditiadakan saat ini. Injury time dan pinalti menjadi pilihan ketika belum mendapatkan pemenang.
Turnamen Sepakbola Menurunkan Angka Bunuh Diri?
Sepakbola, bukan hanya milik fan laki-laki. Tapi juga berbagai kalangan usia, baik perempuan, anak-anak atau remaja, bahkan kakek dan nenek. Semua orang akan terpana dan berkonsentrasi ketika melihat pertandingan sepakbola, apalagi bila klub kesayangan yang sedang berlaga. Teriakan ”Gol!” pun memecahkan keheningan saat tim kesayangannya memasukkan bola kegawang lawan. Turnamen sepakbola menjadi alat pemuas dahaga manusia untuk menyalurkan emosi dan bercengkrama dengan orang-orang sekitar.
Menurut Bill Muray, pakar sejarah sepak bola, dalam bukunya The World Game: A History of Soccer, sepak bola sudah dimainkan sejak awal Masehi. Saat itu, orang-orang di era Mesir Kuno sudah mengenal permainan membawa dan menendang bola yang dibuat dari buntalan kain linen. Tetapi yang pasti, Inggrislah yang mulai menyempurnakan sehingga perkembangannya halus seperti sekarang ini.
Prakarsanya dimulai pada tahun 1963, ketika sebelas perkumpulan di London mengadakan pertemuan untuk menjernihkan kekacauan dengan membuat serangkaian peraturan fundamental untuk mengatur pertandingan-pertandingan selanjutnya. Pada tanggal 26 Oktober 1963, lahirlah Football Association yang pertama.
Selanjutnya, sampai diselenggarakannya kejuaraan internasional terbesar di sepakbola yang disebut dengan Piala Dunia. Piala Dunia diselenggarakan oleh Fédération Internationale de Football Association (FIFA) dan diadakan setiap empat tahun sekali. Ketika event Piala Dunia diselenggarakan, jutaan penonton dari seluruh dunia tidak akan melewatkannya. Seperti yang dituliskan dalam artikel ”Sepakbola: persoalan hidup atau mati? (FourFourTwo Indonesia, November 2009),” bahwa sepakbola dapat menyatukan orang dan bahkan ketika tahun 1992, 1994, dan 1996, angka bunuh diri di Jerman menjadi berkurang. Sementara itu, 10 dari 12 negara yang telah diteliti juga menunjukkan angka menurunnya bunuh diri ketika tim kesayangannya masuk dalam daftar pertandingan.
Hasil dari berbagai penelitian yang ada dalam artikel tersebut adalah kebersamaan dengan orang-orang terdekat dan rasa saling memiliki serta dimiliki adalah obat mujarab yang membuat orang-orang menjadi merasa bersatu. Saling berbagi, mendukung, dan mengomentari membuat orang-orang menjadi lebih akrab sehingga suasana perasaan dan pikiran juga lebih nyaman.
Sisi lain sepakbola
Namun, hal ini juga bertolak belakang dengan berbagai kasus lain mengenai sepakbola yang membuat fan bunuh diri. Di London, Arsenal disisihkan Manchester United di semifinal Liga Champions. Ribuan kilometer jauhnya dari sana, tepatnya di Kenya, seorang pendukung The Gunners, Suleiman Omondi, bunuh diri dengan menggunakan baju Arsenal (5/5/2009).
Selain itu, Witte DR , dkk melakukan penelitian pengaruh besarnya stress psikologis pada pecandu sepakbola di Belanda yang dituliskan dalam Cardiovascular mortality in Dutch men during 1996 European football championship: longitudinal population study bahwa pada saat dilakukan pertandingan antara kesebelasan Belanda melawan Prancis pada perempat final kejuaraan sepakbola Eropa 1996. Hasil pertandingan itu berakhir nol-nol meskipun memasuki waktu tambahan dan akhirnya dimenangkan oleh kesebelasan Perancis melalui adu Penalti. Sekitar 9.8 juta penduduk Belanda menyaksikan pertandingan tersebut. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa angka kematian akibat penyakit jantung koroner (PJK) maupun stroke meningkat pada laki-laki Belanda saat hari dilakukannya pertandingan tersebut. Orang mati mendadak karena ingin kesebelasan Belanda menang.
Sementara itu, kekisruhan juga selalu mampir ketika pertandingan sepakbola digelar. Berbagai perkelahian bukan dilakukan antar tim sepakbola, namun para fan yang sebenarnya hanya penikmat dan penonton saja. Namun, perasaan menyukai tim sepakbola yang berlebihan membuat perasaan mereka tak terkontrol oleh pikiran. Emosi pun meledak dan timbul perkelahian.
Kepribadian Tidak Sehat
Orang-orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri adalah orang-orang yang telah kehilangan kontrol diri. Mereka tidak tahu bagaimana mengontrol emosi yang meledak pada saat moment tertentu, seperti ketika tim sepakbola favoritnya maju atau gagal. Perasaan seperti bagian dalam tim sepakbola walaupun bukan dari negaranya sendiri ini terlalu berlebihan. Inilah salah satu yang disebut oleh Viktor Frankl, Erich Fromm, Maslow dan lain-lain dengan kepribadian tidak sehat.
Salah satu dari ciri kepribadian sehat adalah pikiran yang produktif dan suara hati yang produktif. Pikiran yang produktif adalah pikiran yang berfokus pada gejala-gejala dan mempelajarinya secara keseluruhan, bukan hanya dalam potongan-potongan. Sama halnya pada pikiran para fan fanatik sepakbola. Bunuh diri tidak akan terjadi bila mereka dapat mengontrol pikiran mereka untuk memposisikan kalah menang tim favoritnya sebagai bagian terkecil kebahagiaan. Bukan musnahnya seluruh kebahagiaan hidup. Mereka masih memiliki hidup yang lebih panjang, tentang karir, pendidikan, keluarga, serta kehidupan bermasyarakat.
Selanjutnya adalah suara hati yang produktif. Artinya suara hati yang memimpin dan mengatur diri sendiri. Bila seseorang dapat mengelola atau memanagemen suara hati dalam diri agar tidak memprioritaskan sesuatu yang hanya sementara seperti kemenangan tim sepakbola tertentu atau masuknya tim idola dikancah turnamen bergengsi, tentu kuantitas bunuh diri juga akan menurun.
Disajikan pada kajian rutin Fide (Organisasi mahasiswa Forum Idekita FIP UNJ), Kamis, 5 November 2009



