RSS

Kamis, 03 Desember 2009

KERIPIK

Apa? Mati?
Gantung Diri?
Kapan?
Ya ampun, nggak mungkin deh kayaknya.
Hanya cerita bohong saja.

Komentar demi komentar pun terhembus ke telinga-telinga warga. Orang-orang ikut tercengang mendengar cerita mouth to mouth di desa Ramah Tamah tersebut. Desa yang dipenuhi kenyamanan dan kebahagian pun mendapatkan cobaan. Sebab isu itu memang benar fakta. Di lain tempat, tepatnya di sebuah rumah gubuk yang masih beralaskan tanah yang kira-kira sudah berumur 40 tahun, semua anggota keluarga berduka. Isakan tangis terbesar pun terdengar di sudut ruangan rumah gedek (dinding dari anyaman bambu) sangat sederhana. Terlihat remaja bertubuh gembul yang menangis seperti keran air rusak. Mendengar suara tangisnya, tak mungkin ia menjadi penyanyi. Bahkan penyanyi kamar mandi pun. Huff..

= / =
Siang itu, panas terik menyengat kulit sawo matang anak berusia 9 tahun. Seperti biasa, ia menjual aneka kripik pisang khas daerahnya ke rumah-rumah orang baik dari segi ekonomi lemah sampai para pejabat daerah seperti ketua RT.
” Kripik pisang bu.... kripik pisang rasa strowbery... kripik pisang rasa keju... Ayo bu pak beli.... Kripik....Kripik.....,” seru Nana yang terus tersenyum mendatangi rumah-rumah yang dilewatinya. Warna kulit yang semakin bertambah matang tak dihiraukannya. Daripada tak bersekolah, pikirnya.
”Berapa Nak?,” tanya seorang ibu. Nana pun terkaget melihat mobil sedan kinclong berhenti di sampingnya. ”O..ini hanya empat ribu rupiah Bu satu plastiknya. Ada rasa keju, strowbery, coklat, dan nanas,” jawabnya dengan rasa penasaran kenapa ibu cantik ini mau menyempatkan diri membeli barang dagangannya.
”Saya beli semua Nak.”
”Apa Bu? Tapi ini ada 20 plastik.”
”Saya lupa membawa oleh-oleh. Tidak apa. Jadi semuanya berapa?”
”Emmmm....(sambil menghitung dalam pikiran) empat ribu kali dua puluh jadinya Rp 80.000 Bu.”
” Baiklah. Ini nak uangnya.”
”Terima kasih banyak bu. Terima kasih,” ucap Nana sambil mencium tangan ibu cantik yang kira-kira berusia 35 tahun itu.”
”Sama-sama.”

Dua hari berikutnya
”Eh kamu, anak penjual kripik pisang kan? Kog bisa sekolah di sekolah bagus ini? Kamu pencuri ya?”
Nana tersentak dan mencerna kata demi kata yang dilontarkan anak cowok gendut berhidung runcing tersebut. Nana pun sempat tersenyum karena hidung itu tak sesuai dengan badan dan pipi yang penuh lemak tanpa ampun menyembul kesana kemari.
”Heh! Kamu itu ditanya malah senyum-senyum. Gila kamu ya?”
”Oh, hai... kamu anak baru ya disini? Selamat bergabung dengan sekolah bertarif duit tinggi, saya Nana,” sambut Nana terhadap pernyataan kurang sopan itu. Ia pun tersenyum ramah.
”Sudahlah anak miskin. Ke sekolah sebelah saja. Cocok dengan pekerjaan sampingan kamu,” timpal si gendut.
Nana nyengir saja. Ia pulang ke ke rumah setelah bel berbunyi pukul 1 siang.


Sejam kemudian,
”Kripik...Kripik....Kripik,” seru Nana di tengah jalanan yang karena perubahan zaman menjadi penuh dengan benda mati roda empat itu. Tiba-tiba di depan ada kerumunan orang. Nana menjadi penasaran dan lari menghampiri. ”Oh, ibu cantik. Kenapa bisa begini? Cepat bawa ke rumah sakit,” teriak Nana.

=/=
Di sekolah, si gendut runcing terus mengatainya. Tak pernah lelah ia mengumpat Nana sehingga membuat muka Nana memerah saking malu dan marahnya. Ia pun sempat dipanggil di ruang kepala sekolah ketika ada kasus pencurian HP di kelasnya. Prasangka negatif bercabang ke semua otak anak di sekolah tersebut terhadap Nana. Guru pun tak segan-segan memarahi Nana walaupun Nana tidak melakukan pencurian demi pencurian yang terjadi 1 bulan terakhir ini. Dido si gendut runcing tersenyum puas melihat Nana menjadi korban caci maki dan ejekan teman-temannya.
”Saya tidak melakukannya Pak. Sungguh. Lagipula saya sudah mendapat beasiswa. Jadi kenapa saya harus mencuri.”
”Ah alasan saja kamu. Buktinya kamu ada di kelas ketika teman lainnya berolahraga. Cepat mengaku kalau tidak saya akan membawa kamu ke kantor polisi.”
”Benar Pak,” jawab Nana di tengah isak tangis.

=/=
Tergopoh-gopoh Dido memanggil Nana di tengah anak bermain karet, galaksin, serta petak umpet. Ia pun menghampiri semua kelas yang berjumlah 18 ruangan bertingkat tiga. Sosok wanita kecil mungil tapi manis itu tak terlihat juga. Ia menjadi kesal. Ketika melewati ruangan guru dan mendengar deru air mata para guru. Dido pun terduduk lemas. ”Tidaaaaaakkkk.... Nana... aku yang salah.” bayangan wajah manis yang tak menghiraukan ledekan-ledekannya menyembul di kepala. Senyum Nana yang tak pernah surut membuat kepalanya ingin digantung saja.

=/=
Segerombol polisi menghampiri rumah tua di tengah desa. Gadis ceria yang tak pantang menyerah pada nasib kembali ke Sang Pencipta dengan kondisi mengenaskan. Ia menyerahkan hidupnya pada sebatang pohon dan tali yang mengikat lehernya. Ibunya teriak histeris ketika menemukan anak semata wayangnya ketika ingin menjemur pakaian. Anaknya masih mengenakan pakaian seragam sekolah. Anak kecil yang belum baligh mengakhiri hidup dengan cara yang terduga. Dido pinsan berkali-kali karena ia belum sempat meminta maaf atas kejahatan yang direncanakan dan berterima kasih atas jasa Nana terhadap ibu angkatnya yang diselamatkan Nana.

Bunda...maafkan Nana pergi berlindung kepada-Nya
Ayah...tunggu Nana, kita akan bertemu dui surganya
Bu guru, Pak guru, sungguh Nana bukan pencuri
Maafkan Nana

Selembar kertas itu ditemukan Dido di saku baju Nana ketika Jenazah Nana diturunkan dari pohon jambu yang ikut serta menangisi pemilik kecil pemeliharanya.

=/=
”Kripik...Kripik...Ibu Bapak. Kripik aneka rasa. Enak pak bu...” Anak gendut berhidung runcing itupun berhenti sejenak melihat matahari yang menyengat tubuh gembulnya. Semoga hari ini ada pendapatan lebih untuk Ibu Nana.


Oleh: Dian Ayu Novalia
terinspirasi dari kasus bullying di sekolah


ditulis juga di:
http://ekstra.kompasiana.com/group/fiksi/2009/12/03/keripik/

Rabu, 02 Desember 2009

YANG MUDA JUGA PATUT BERPENDAPAT

Yang tua bukan berarti yang berkuasa. Dosen memang pantas untuk ditiru dan didengarkan. Namun, mahasiswa bukan kerbau yang dicocok hidungnya. Sudut pandang bisa saja berbeda. Ini adalah hal yang lumrah. Perbedaan tidak untuk dibinasakan begitu saja, melainkan didialogkan untuk mendapatkan kesepakatan bijak.


Memberikan yang terbaik kepada peserta didik adalah tugas guru, termasuk dosen. Mengabdi demi kemajuan generasi bangsa jelas menjadi tanggung jawab mereka. Profesionalitaslah yang menjadi acuan disini. Mengajar dengan hati tentu sangat diharapkan peserta didik. Bukan hanya intelegensi tinggi, lulus sertifikasi, ataupun pengalaman ke luar negeri yang menumpuk yang dikedepankan oleh para pendidik. Namun, implementasi setelah mendapatkan berbagai pengalaman itulah yang wajib diberikan kepada peserta didik.

Sementara itu, tata krama mengajar pun tidak bisa dilupakan begitu saja. Cara mengajar, body language, tutur kata menjadi salah satu modal mengajar selain hal-hal pokok lainnya. Menjadi pendidik bukan untuk sekadar dihormati karena menyandang pahlawan tanpa tanda jasa. Pendidik tentu bukan profesi yang mudah walaupun kesejahteraan masih dianggap rendah dibandingkan kesejahteraan pendidik dari negeri tetangga. Namun bukan menjadi alasan mengajar dengan seenak hati karena kesejahteraan juga didapat setengah hati dari pemerintah. Dilema kesejahteraan dan profesionalitas seperti ini harus siap mereka tanggung demi kebaikan masa depan bangsa. Sebab nasib bangsa Indonesia kelak juga ada pada para pendidik yang mendidik beribu-ribu generasi muda.

Teladan yang baik dapat kita lihat dari sosok Bu Muslimah yang mengajar 10 Laskar Pelangi. Semangat yang tinggi serta ketahanmalangan (adversity quetions) sebagai pendidik sangat ia tinggikan. Semboyannya bersama kepala sekolah SD Muhammadiyah Belitung yaitu mendidik dengan hati. Bukan mengatasnamakan nilai atau uang.

Namun saat ini, lagi-lagi dengan mengatasnamakan pendisiplinan, para pendidik mampu berbuat seperti apa yang mereka inginkan (padahal di luar konteks pembelajaran). Akhirnya, tindak penindasan pun marak terjadi. Baik dari pendidikan dasar hingga menengah. Bahkan sampai perguruan tinggi. Bullying atau penindasan sebagai bentuk senioritas pun marak terjadi. Seperti yang dilakukan oleh mahasiswa ketika event ospek. Lebih jauh lagi dan sangat disayangkan, dosen-dosen sebagai pencetak pendidik pun bertindak serupa. Senioritas diungkapkan dengan sangat verbal dihadapan mahasiswa ketika mengajar. Menganggap sebagai orang yang paling berpengalaman dan mahasiswa adalah orang yang hanya wajib belajar tanpa komentar. Padahal ilmu dan pengetahuan bisa didapat dari mana saja. Bukan hanya dari yang tua.

Buku adalah sumber pengetahuan. Pengalaman juga menambah ilmu pengetahuan. Diskusi diterapkan. Pengetahuan pun disebarkan lewat tulisan. Baik muda dan yang tua, bersama-sama membangun pendidikan ke arah progresif.

by: Dian Ayu Novalia