Yang tua bukan berarti yang berkuasa. Dosen memang pantas untuk ditiru dan didengarkan. Namun, mahasiswa bukan kerbau yang dicocok hidungnya. Sudut pandang bisa saja berbeda. Ini adalah hal yang lumrah. Perbedaan tidak untuk dibinasakan begitu saja, melainkan didialogkan untuk mendapatkan kesepakatan bijak.
Memberikan yang terbaik kepada peserta didik adalah tugas guru, termasuk dosen. Mengabdi demi kemajuan generasi bangsa jelas menjadi tanggung jawab mereka. Profesionalitaslah yang menjadi acuan disini. Mengajar dengan hati tentu sangat diharapkan peserta didik. Bukan hanya intelegensi tinggi, lulus sertifikasi, ataupun pengalaman ke luar negeri yang menumpuk yang dikedepankan oleh para pendidik. Namun, implementasi setelah mendapatkan berbagai pengalaman itulah yang wajib diberikan kepada peserta didik.
Sementara itu, tata krama mengajar pun tidak bisa dilupakan begitu saja. Cara mengajar, body language, tutur kata menjadi salah satu modal mengajar selain hal-hal pokok lainnya. Menjadi pendidik bukan untuk sekadar dihormati karena menyandang pahlawan tanpa tanda jasa. Pendidik tentu bukan profesi yang mudah walaupun kesejahteraan masih dianggap rendah dibandingkan kesejahteraan pendidik dari negeri tetangga. Namun bukan menjadi alasan mengajar dengan seenak hati karena kesejahteraan juga didapat setengah hati dari pemerintah. Dilema kesejahteraan dan profesionalitas seperti ini harus siap mereka tanggung demi kebaikan masa depan bangsa. Sebab nasib bangsa Indonesia kelak juga ada pada para pendidik yang mendidik beribu-ribu generasi muda.
Teladan yang baik dapat kita lihat dari sosok Bu Muslimah yang mengajar 10 Laskar Pelangi. Semangat yang tinggi serta ketahanmalangan (adversity quetions) sebagai pendidik sangat ia tinggikan. Semboyannya bersama kepala sekolah SD Muhammadiyah Belitung yaitu mendidik dengan hati. Bukan mengatasnamakan nilai atau uang.
Namun saat ini, lagi-lagi dengan mengatasnamakan pendisiplinan, para pendidik mampu berbuat seperti apa yang mereka inginkan (padahal di luar konteks pembelajaran). Akhirnya, tindak penindasan pun marak terjadi. Baik dari pendidikan dasar hingga menengah. Bahkan sampai perguruan tinggi. Bullying atau penindasan sebagai bentuk senioritas pun marak terjadi. Seperti yang dilakukan oleh mahasiswa ketika event ospek. Lebih jauh lagi dan sangat disayangkan, dosen-dosen sebagai pencetak pendidik pun bertindak serupa. Senioritas diungkapkan dengan sangat verbal dihadapan mahasiswa ketika mengajar. Menganggap sebagai orang yang paling berpengalaman dan mahasiswa adalah orang yang hanya wajib belajar tanpa komentar. Padahal ilmu dan pengetahuan bisa didapat dari mana saja. Bukan hanya dari yang tua.
Buku adalah sumber pengetahuan. Pengalaman juga menambah ilmu pengetahuan. Diskusi diterapkan. Pengetahuan pun disebarkan lewat tulisan. Baik muda dan yang tua, bersama-sama membangun pendidikan ke arah progresif.
by: Dian Ayu Novalia


0 komentar:
Posting Komentar