RSS

Senin, 07 Februari 2011

INTERNET, MALL DUNIA MAYA

“Ingin beli dan jual ini dan itu, hanya sekadar melihat-lihat, bercakap-cakap, bertemu teman, bersenang-senang; semua itu dapat dilakukan di mall. Inilah gaya hidup orang zaman sekarang. Serupa dengan internet yang telah menyediakan kebutuhan yang diperlukan manusia layaknya mall, bahkan lebih dari itu.”

Tahun 1900-an punya ponsel sudah sangat “wah” sekali. Ingat waktu dulu, simcard ponsel saja mahal sekali harganya, sekitar Rp 200-300 ribu rupiah. Kemudian, sekitar tahun 2000 awal, punya komputer/laptop pun dirasa sangat mahal dan merupakan barang istimewa (tersier). Jarang sekali yang dapat membelinya. Berbeda dengan sekarang. Tentu saja ponsel, komputer, laptop bahkan modem internet sudah bukan menjadi barang langka. Memang benar adanya, saat ini gaya hidup masyarakat sudah jauh berbeda, yakni berbasis internet.

Termasuk penulis sendiri. Ponsel murah pun sudah dapat mengakses jejaring sosial yang sedang marak secara global. Ditambah lagi laptop dengan modemnya yang lebih mempermudah komunitas maya (virtual communities) berseluncur di dunia maya tersebut (internet). Dunia hiburan orang zaman sekarang, bukan hanya mencari data, tapi juga menambah jumlah teman, berjualan barang atau jasa, bermain games, mengakses musik atau video dan sebagainya. Internet sudah dirasa sangat lengkap, mudah, cepat dan menarik. Baik tua maupun muda tidak pernah ketinggalan mengakses internet setiap harinya. Setidaknya jejaring sosial seperti facebook dan twitter.

Wong Ndeso Pun Melek Internet
Perubahan terbesar di bidang komunikasi 40 tahun terakhir (sejak munculnya televisi) adalah penemuan dan pertumbuhan internet. Internet telah berkembang secara fenomenal pada tahun 1960-an (Warner J. Severin & James W. Tankard, Jr, Teori Komunikasi: 2009). Inilah kehebatan otak manusia yang dapat merakitnya dan mengembangkannya sedemikian rupa. Kebermanfaatan dikembangkannya internet sangat dirasakan oleh masyarakat global.

Tentunya di daerah perkotaan, adanya internet adalah hal yang lumrah atau wajar. Tapi saat ini internet pun sudah merambah ke pedesaan. Sepertinya masyarakat desa pun tidak ingin ketinggalan zaman. Mereka tidak ingin dianggap kuno atau manusia jadul alias jaman dulu dan gaptek (gagap teknologi).

Kini, masyarakat di pelosok desa sudah dapat mengaksesnya, melalui ponsel atau warung internet (warnet) di sekitar rumah. Pemandangan yang biasa, namun cukup penting untuk ditelaah lebih lanjut. Ingat dulu waktu tahun 1999 (rumah saya ada di salah satu desa daerah Sumatra), ibu saya harus pergi ke warung Telkom (wartel) untuk menelpon kakak yang kuliah di Bogor. Jarak rumah ke wartel pun butuh waktu sekitar 20 menit dengan mengendarai motor. Namun sekarang, tinggal pencet tombol ponsel, dalam hitungan detik sudah dapat berbincang ria. Selain itu, apabila kangen dan ingin berbagi foto, tidak perlu menggunakan jasa pak pos (kecuali mengirim paket), melalui pesan multimedia atau juga email lebih cepat diunduh. Bahkan kalau tidak bisa menghubungi ponsel, dapat memberikan pesan melalui jejaring sosial.

Alasan Beralih ke Internet
Anak kecil dan remaja sudah jarang bermain permainan tradisional, mereka keranjingan game online atau juga jejaring sosial. Ibu-ibu rumah tangga pun berjualan bermacam-macam barang melalui jejaring sosial ataupun blog. Kemudian, karyawan menggunakan fasilitas chat dan email untuk berkirim data/dokumen. Mahasiswa pun mengirimkan tugas kuliah melalui email. Setiap kegiatan sering kali berkaitan dengan internet. Sisi positif dan negatifnya tentu dirasakan oleh masing-masing pihak karena setiap orang memiliki kebutuhan berbeda-beda.

Menarik, inilah salah satu alasan orang mengakses internet. Fiturnya sangat menarik mata untuk terus sekadar melirik, membaca, bahkan memelototinya hingga berjam-jam. Dari hanya bacaan, foto, video, email hingga games dan chat. Bahkan, kemenarikan internet ini bisa membuat beberapa orang menjadi kecanduan.

Yang kedua adalah mudah. Jelas, untuk mencari data, informasi, berkomunikasi, dan bersenang-senang ada di internet. Dikatakan mudah karena di setiap tempat kita dapat mengaksesnya, baik melalui ponsel, wifi, warnet, dan modem, juga Web-TV. Caranya pun tidak rumit dan mudah dipelajari.

Yang ketiga yaitu cepat. Melalui internet, kebutuhan masing-masing penggunanya akan lebih cepat disampaikan. Tanpa melalui surat menyurat seperti zaman dulu. Ketika menginginkan informasi mendadak pun tidak perlu ke toko buku atau tempat yang harus dituju lainnya, karena melalui internet dapat langsung diketahui saat itu juga.

Lengkap, inilah alasan yang sangat krusial. Jelajah dunia maya tidak pernah ada habisnya karena informasi dari yang besar hingga perihal kecil dapat diunduh. Kebutuhan informasi yang ingin diketahui sangat lengkap di internet. Internet sudah seperti kamus terlengkap tiada duanya untuk saat ini.

Perubahan Gaya Hidup
Inilah kehebatan internet. Internet dapat mengubah pola pikir masyarakat yang pas-pasan tahu, menjadi melek informasi. Apalagi saat ini marak pengguna jejaring sosial, informasi terbaru lebih cepat berselancar dan berpindah dari orang satu ke orang lainnya, lalu ke teman orang lainnya tersebut dan seterusnya bahkan ke belahan negara lain.

Selain pola pikir, perubahan juga terjadi pada fashion. Bukan hanya televisi yang dapat membuat masyarakat cepat mencontoh gaya hidup masyarakat kota atau luar. Internet membuatnya lebih cepat mengadaptasi perubahan tersebut. Trend baju dan dandanan terbaru, bukan hanya terjadi di kota, tapi juga pelosok desa. Untuk beberapa wilayah, perubahan dalam hal ini kurang cocok ditiru.

Belum lagi gaya hidup yang kurang baik dicontoh. Dulu bergandengan tangan adalah tabu dan memalukan. Saat ini, dapat dilihat dimana-mana bahkan lokasi sekolah. Tidak takut-takut bergandengan bahkan lebih dari itu. Inilah salah satu sisi negatif yang tidak harus diimitasi total. Pendidikan keluarga, sekolah, dan adat istiadat berperan penting dalam hal ini.

Konklusi
Internet, memang sudah seperti mall, bahkan lebih dari itu. Berbagai kebutuhan yang diinginkan oleh peselancarnya dapat dengan mudah didapatkan. Bukan saja sesuai keinginan, bisa lebih dari itu karena beraneka ragam disediakan. Sisi positif atau kebermanfaatan internet harus dioptimalkan. Sedangkan sisi negatif dapat disaring dengan meningkatkan pengetahuan akademik maupun agama. Tugas kita bersama untuk dapat menggunakannya untuk perubahan lebih baik. Termasuk menjadi masyarakat yang cerdas dan melek informasi.

Link : http://www.bhinneka.com

0 komentar:

Posting Komentar